KUNCI KEBAHAGIAAN
Mazmur 128
“Apa kriteriamu dalam mencari
pasangan? Mama ingin mendapatkan menantu yang takut akan Tuhan. Kalau kaya
dan
pintar, ya puji Tuhan. Namun, yang utama adalah takut akan
Tuhan.” Demikian pertanyaan sekaligus pernyataan yang dilontarkan seorang ibu
kepada putrinya. “Carilah yang seperti papamu,” lanjutnya dengan tenang.
Takut akan Tuhan memang sebuah keutamaan. Jika Amsal mengatakan bahwa takut akan TUHAN
adalah permulaan hikmat dan pengetahuan, pemazmur menyatakan bahwa takut akan
TUHAN adalah kunci kebahagiaan. Orang yang berbahagia adalah orang
yang mengetahui jalan-jalan TUHAN dan mengikutinya. Alhasil, hidupnya penuh
keberkahan. Kebutuhan sehari- hari tercukupi, istri dan anak-anak hidup bahagia
serta produktif, dan keluarga mereka memiliki masa depan. Mereka berumur
panjang, dapat melihat cucu-cucu mereka, dan hidup penuh damai sejahtera. Semua
ini adalah berkat bagi orang yang takut akan TUHAN.
Takut akan Tuhan harus menjadi pegangan
kita dalam kehidupan. Bukan
hanya untuk mencari pasangan atau menantu, seperti dalam cerita di atas,
melainkan juga untuk membangun keluarga, karier, dan pekerjaan; bahkan saat kita memimpin di gereja maupun di mana pun. Takut akan Tuhan lahir dari iman bahwa
Tuhan ada dan melihat
kita, serta terus dipupuk dengan firman. Niscaya, hidup kita akan dipenuhi
kebahagiaan dan damai sejahtera. (Wasiat)
REFLEKSI:
Hidup bahagia adalah dambaan, dan akan menjadi
kenyataan jika kita bertekun
dalam firman dan hidup penuh rasa hormat kepada Tuhan.